Insight Articles — Sep 22, 2022

Milih Menu Galaunya kayak Milih Jodoh

3 mins read

Share this article

“Mau makan apa?”

 

“Terserah.”

 

Lagi laper disuruh mikir tuh sering gini, tiba-tiba otak rasanya disconnected. Udah bolak-balik buka menu atau scroll aplikasi food delivery sampai puluhan kali tetap aja bimbang.
 

Mulai dari mikirin mau makanan berat atau ringan, makanan khas daerah mana, yang berkuah atau gorengan, yang manis atau asin, dari restoran mana, pakai aplikasi apa, sampai yang range harganya berapa—banyak banget faktor yang bikin kita overthinking. Rasanya tuh capek banget harus nentuin menu makanan 3 kali sehari. Jadi seringnya beli menu itu-itu aja sampai bosan.

 

Ternyata, merasa sulit nentuin pilihan karena tersedia terlalu banyak opsi itu wajar. Colin F. Camerer, seorang Behavioral Economist, mendeskripsikan kondisi ini dengan istilah choice overload. Berdasarkan hasil risetnya di Caltech, kondisi ini terjadi karena otak kita dihadapkan dengan terlalu banyak pilihan dalam satu waktu sehingga merasa sulit untuk fokus hanya pada satu pilihan. Camerer menemukan bahwa jumlah pilihan yang ideal untuk otak kita adalah 8 hingga 15 opsi.

 

Temuan ini diperkuat oleh eksperimen choice overload lain oleh Camerer di California Institute of Technology. Kali ini, peneliti menyiapkan meja yang menawarkan sampel selai kepada pelanggan di toko kelontong. Para partisipan diminta untuk memilih makanan dari 6, 12, dan 24 pilihan. Hasilnya, meskipun pembeli lebih sering berhenti dan mencoba sampel saat ada 24 pilihan, mereka cenderung tidak memutuskan untuk membeli apapun. Sedangkan saat hanya ada 6 selai di meja, pembeli kurang tertarik untuk berhenti. Tetapi saat ada yang berhenti, mereka 10 kali lebih mungkin untuk memutuskan membeli.

 

Tapi disclaimer dulu nih. Menurut Camerer, setiap orang punya kemampuan memilih yang berbeda-beda karena bergantung pada faktor rasa puas, tingkat kesulitan mengevaluasi pilihan, dan karakteristik pribadi.

 

Kalau kamu merasa overwhelmed kalau dihadapkan dengan berapa pilihan?
 

Nah, ada tips bagi kamu yang indecisive memakai process of elimination. Caranya, kalian cuma harus membuat list pilihan, lalu coret satu-persatu yang gak sesuai dengan kriteria dan ekspektasi. Menghapus opsi yang nggak diinginkan bisa mengecilkan jumlah opsi makanan dan membuat keputusan lebih mudah diambil.

 

Misalnya, kamu sedang dihadapkan dengan 6 pilihan. Pertama coret 1 restoran yang reviewnya kurang bagus. Kemudian, coret 1 lagi yang tampilan makanannya kurang menarik. Lalu, lupakan yang waktu/lokasinya gak memungkinkan. Terakhir, buang yang harganya gak cocok. Akhirnya dari 6 pilihan awal kamu punya 1 restoran yang paling ideal deh.

 

Selamat mencoba tips ini ya!
 

Reference:

Share this article

Newsletter

Work

FAQ

Insights

News

Join The Team

Contact

Privacy Policy