Memahami Milenial Guna Advertensi
Words by Aflah Satriadi

Milenial atau gen Y mulai menduduki tahta dunia. Bagaimana tidak, generasi terbesar dengan jumlah 1,8 miliar ini mulai memegang perputaran ekonomi dunia. Target pasar khususnya, telah terfokus pada generasi ini sedari beberapa tahun belakangan. Artinya, milenial kini merupakan konsumen utama dengan jumlah yang fantastis.

Pergeseran segmentasi lintas generasi tentu membutuhkan berbagai penyesuaian. Milenial adalah generasi yang punya perbedaan karakteristik mencolok dengan generasi-generasi sebelumnya. Hal ini jelas menjadi tantangan bagi dunia advertensi untuk dapat melakukan penyesuaian guna membidik para konsumen utama.

Lalu, bagaimana sebenarnya tantangan yang muncul atas dominasi milenial sebagai pemburu produk di masa kini? Bagaimana seharusnya advertensi mengambil sikap? Pertanyaan-pertanyaan ini jelas dapat dijawab dengan terlebih dahulu mengenal karakteristik milenial itu sendiri. Secara garis besar, ada lima hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami milenial dan pengaruhnya terhadap advertensi.

Berikut lima hal yang dimaksud:

1. Milenial adalah ‘Pribumi Dunia Maya’

Hasil survey Ipsos MORI pada akhir tahun lalu menyebutkan milenial sebagai generasi yang cakap teknologi. Mereka dapat menghabiskan waktu selama 7,5 jam setiap harinya untuk berselancar di internet. Sebanyak 61% dari total waktu online mereka habiskan lewat aplikasi ponsel pintar, 8% pada mobile web, 25% pada desktop, dan 5% pada tablet.

unithree_memahami_milenial_guna_advertensi_01

Tidak heran bukan kalau milenial bisa kita sebut sebagai ‘pribumi dunia maya’? Lantas bagaimana pengaruhnya terhadap iklan? Dengan ini, kita dapat tahu bahwa milenial akan mengabaikan iklan-iklan tradisional. Iklan harus mengikuti pergerakan mereka menuju habitatnya, internet.

Internet memungkinkan pengiklan membuat berbagai bentuk konten, mulai dari teks, gambar, foto, hingga video. Media sosial misalnya, dapat menjadi lahan subur untuk menanam berbagai iklan, baik melalui Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat, YouTube maupun media sosial lainnya. Langkah ini tentu menjadi langkah awal yang tepat untuk dapat menarik perhatian para milenial.

2. Penyampaian Cepat Bagi Milenial Sangat Penting

Meski pengiklan sudah membuat kontennya secara online bukan berarti milenial akan langung menaruh perhatian begitu saja. Nyatanya, konten daring begitu melimpah, maka kemungkinan akan suatu konten untuk terabaikan begitu besar. Penyampaian yang cepat, singkat, dan to the point adalah hal yang sangat penting untuk diimplementasikan.

unithree_memahami_milenial_guna_advertensi_02

Berbagai format konten iklan, baik dalam bentuk teks, gambar, maupun video perlu dibuat sesingkat mungkin. Iklan harus dibuat menarik, efektif dan langsung merujuk pada intinya untuk dapat menaruh atensi pada milenial yang begitu mudah terdistraksi dengan konten lainnya. Penelitian comScore menyebutkan, sebuah konten video hanya memiliki waktu 5 sampai 6 detik untuk mengerahkan efektivitasnya dalam menarik perhatian milenial. Penelitian lainnya bahkan menyebutkan, rata-rata waktu yang diperlukan milenial dalam menyimak suatu konten hanya 2,5 detik pada desktop dan 1,7 detik pada mobile. Waktu minimal menyimak via mobile bahkan hanya 0,25 detik!

3. Pilih Konten yang Berhubungan dengan Milenial

Milenial punya seleranya sendiri dalam menaruh perhatian terhadap berbagai konten yang tersedia dalam internet. Milenial hanya menaruh perhatian terhadap hal-hal yang dekat dan berhubungan dengan mereka. Maka dari itu, pihak pengiklan harus jeli melihat berbagai aspek ini untuk dapat membuat konten yang mengundang atensi penuh dari milenial.

unithree_memahami_milenial_guna_advertensi_03

Hasil survey Millenial Ranking Report oleh Moosylvania mengungkapkan beberapa faktor utama milenial dalam memilih produk yang turut memuat faktor keseuaian dengan kepribadian, minat, dan tren. Dalam konteks ini, konten iklan perlu memuat berbagai aspek yang dapat mewakili kepribadian serta minat milenial. Dengan itu, pesan yang ditujukan dalam konten iklan dapat jadi menarik, bahkan menempel di benak para milenial.

Bicara tren juga tak kalah penting dalam membidik milenial. Aspek trending topic dapat menjadi landasan konten untuk menarik perhatian milenial. Namun, aspek ini tentu dapat pula menjadi boomerang. Pengiklan dapat mengambil keuntungan dari aspek trending topic jika mereka memahami secara betul topik yang dimaksud, dan merealisasikannya dengan tepat waktu. Jika tidak, yang ada hanya blunder yang justru merugikan.

4. Pengalaman yang Bernilai

Jika iklan tradisional dibuat hanya untuk menjajakan produk secara gamblang untuk menarik konsumen, maka hal itu tidak lagi relevan bagi milenial. Di samping produk sebagai suatu barang, milenial justru lebih mementingkan aspek pengalaman. Studi dari PWC misalnya, menyebutkan 52% milenial lebih memilih pembelian yang berkenaan dengan pengalaman.

unithree_memahami_milenial_guna_advertensi_04

Dengan kata lain, sebuah produk harus memikirkan caranya untuk turut melibatkan suatu pengalaman yang bernilai untuk dapat memikat konsumen (milenial). Milenial adalah generasi FOMO (fear of missing out), atau generasi yang memiliki ketakutan akan terabaikan. Mereka selalu merasa perlu untuk jadi bagian dari sesuatu, ingin selalu terlibat dalam suatu hal. Sehingga melibatkan milenial dalam pengalaman atas sebuah produk atau brand jelas akan menjadi pilihan tepat.

Implementasi atas pengalaman bernilai bagi konsumen ini, dapat dirancang dalam berbagai cara. Misalnya, sebuah brand atau produk dapat menggelar sebuah acara eksklusif bagi para konsumennya, menerapkan sistem produk custom bagi konsumen, atau kampanye-kampanye tertentu yang melibatkan konsumen secara langsung.

5. Peran Social Influencer

Rutinitas online para milenial sempat memunculkan selebritis internet yang popularitasnya bahkan bisa dibilang lebih masif dibanding media lainnya. Dari situ, muncul istilah-istilah seperti vlogger, selebgram, selebtwit, dan lain-lain. Pada intinya, mereka yang disebut dengan berbagai istilah ini adalah social influencer yang kini banyak menjadi acuan para milenial dalam sejumlah aspek.

unithree_memahami_milenial_guna_advertensi_05

Di sisi lain, kemunculan social influencer ini menjadi media baru yang dapat menjadi bagian strategi iklan. Istilah endorsement misalnya, mulai dikenal sebagai strategi iklan kekinian yang memanfaatkan popularitas para social influencer. Mereka membuat konten, melibatkan suatu produk, disimak banyak orang, disukai, dibagikan, dijadikan perbincangan, dan boom! Atensi para milenial terhadap produk tersebut meningkat.